Page 19 - Peduli Lingkungan dan Tanggap Bencana
P. 19
Menurut Nassr, Islam melihat alam dengan cinta
dan tanggungjawab, alasannya di alam terkandung
banyak pengetahuan dan kebijaksanaan. Selain itu,
alam juga sarat dengan simbul dan pesan spiritual
sehingga mampu menjadi sumber belajar dan
kearifan. Nasr menambahkan, alam sesungguhnya
adalah perwujudan atau eksistensi Allah. Meski alam
itu perwujudan dan eksistensi Allah tetapi bukan
berarti Allah sama dengan alam ciptaanNya. (Nasr,
1996, p. 159). Masrokhin menjelaskasn Nasr pun
berpendapat tentang kerusakan lingkungan itu akibat
upaya manusia modern yang memandang alam
sebagai tatan realitas yang berdiri sendiri. Artinya
terpisah dari hakikat ilahi yang seharusnya menjadi
pusat. Padahal, dengan begitu alam dipandang
sebagai sesuatu yang tidak memiliki nilai pada dirinya
sendiri. Baginya, resakralisasi alam semesta sangat
penting diupayakan untuk merubah cara pandang
manusia terhadap alam (Muda, 2020).
Selain Nasr, Sallie McFague juga memiliki rumusan
tentang ekoteologi. Sallie adalah teolog feminis
Kristen Amerika. Pandangannya tentang ekoteologi
ini berangkat dari keprihatinan terhadap krisis ekologi
yang dihadapi dunia. Dia menyoroti tentang
perubahan suhu global. Menurutnya, perubahan suhu
itu banyak dipengaruhi oleh gaya hidup yang
konsumtif dan penggunaan energi nuklir yang
semakin marak di beberapa negera. Perilaku ini
berakibat munculnya krisis ekologi yang ditandai
perubahan iklim. McFague menggunakan cara
berpikir metaforis untuk membangun gagasan
ekoteologi yakni alam semesta sebagai tubuh Tuhan
memiliki ciri yang sangat inkarnasional. Gagasan ini
berdasar pada Kitab Kel. 33:23. (McFague, 1987)
(Muda, 2020).

